Tampilkan postingan dengan label Kawasan Kota Lama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kawasan Kota Lama. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Oktober 2012

Gereja Blenduk yang Anggun dan Sexy

Gereja Blenduk merupakan salah satu gereja tua yang masuk dalam pelestarian cagar budaya Berusia lebih dari 200 tahun dan dijadikan "tetenger" (Landmark) kota Semarang. Terletak di Jalan Let Jend. Suprapto no.32. Arsitektur gereja ini tidak lazimnya sebuah bangunan gereja sebagai mana umumnya, karena memiliki atap kubah yang lebih mirip bangunan masjid. Dinamai gereja Blenduk karena dibagian atas 2 menara dan sebuah kubah besar. Kubah dalam bahasa Jawa berarti Blenduk. Bangunan ini mulai berdiri pada tahun 1753, digunakan untuk gereja NEDERLANDSCHE INDISCHE KERK. Gedung ini diperbaiki lagi pada tahun 1756, 1787, dan 1794. Pada tahun 1894 bangunan ini dirombak seperti keadaan sekarang. Arsitek pembangunan ini adalah HPA DE WILDE dan W WESTMAS. Keberadaan gereja ini berperan besar terhadap perkembangan agama kristen di Semarang. Karena keunikan bangunan ini banyak orang yang datang mengunjungi gereja ini baik dari dalam kota, luar kota bahkan sampai manca negara. Disebelah gereja Blenduk terdapat taman Srigunting yang merupakan Ruang Terbuka Hijau kawasan Blenduk sebagai tempat berkumpulnya komunitas-komunitas lokal untuk beraktivitas menghidupkan kawasan kota lama Semarang. Ada Komunitas Pecinta Heritage, ada Komunitas Sepeda Tua, Komunitas Sketsa, Komunitas Mobil Tua, Komunitas Olah Raga Ekstrim Pakaur, Kapoera, Fotografi, seni dan lain sebagainya. Komunitas tersebut biasanya melakukan aktivitasnya sambil mendiskusikan bagaimana menghidupkan kawasan kota lama dengan kegiatan masing-masing. Dari berbagai macam kegiatan komunitas dan masyarakat kota Semarang, Gereja Blenduk merupakan salah satu tempat favorit, disamping unik bangunan ini sangat fotojenik, dipotret dari sudut mana saja terlihat sexy. Sangatlah wajar jika setiap hari banyak orang yang narsis sekitar Gereja ini.
Suasana Gereja Blenduk pada saat malam hari. Biasanya banyak pehobi foto mengabadikan dengan mode night shoot dengan speed lambat sehingga terlihat lampu-lampu glow kendaraan yang melintas.
Foto ini saya ambil after sunset sekitar jam 6 magrib, pada saat itu kebetulan ada bulan sabit dengan bentuk sabit yang sempurna, sengaja saya bidik kubahnya saja dengan aksen bulan sabit diatasnya. Pesan yang saya sampaikan adalah kerukunan umat beragama yang ada disana. Karena kenyataannya bahwa Gereja Blenduk bukan hanya miliknya penganut kristiani saja, karena bangunan ini termasuk Heritage semua orang yang non Kristianipun mencintai dan menjaga bangunan ini.
Towernya saja juga sangat sexy dan kompak dengan lampu taman sebelahnya. Foto ini diambil dari sebelah taman Srigunting dengan judul "Twin Two Tower & Lamp".
Salah satu menara yang sangat indah, pada saat saya membidik kebetulan sore hari dan dalam suasana mendung, biru langit dan dipadu dengan awan mendung menambah dramatisasi suasana seolah-olah bangunan tersebut seperti "Heaven Tower (Menara Surga)"
Masih dihari yang sama dan disore yang sama, pada saat masih mendung kubah gedung saya foto. Sengaja saya meminimaliskan kubahnya karena hanya sebagai aksen, akan tetapi keminimalisan tersebut mengandung pesan betapa "Agungnya" kubah ini, dan saya memberi judul "Kubah yang Agung".
Jamnyapun keliatan sexy juga untuk di foto. Terlihat bahwa jam gereja Blenduk sangat unik dengan huruf romawi nampak serasi dengan menaranya. Barang kali ini merupakan sekilas tentang sudut bidik sebuah Gereja Agung yang sangat sexy untuk di foto, mudah-mudahan para pembaca tidak percaya sampai pembaca harus membuktikan sendiri bagaimana sexynya bangunan ini. Ayo datang ke Semarang dan SAVE OUR HERITAGE. (Zen Shinoda)

Minggu, 17 Mei 2009

Kawasan Kota Lama Semarang


Kota Semarang memiliki suatu kawasan yang pada sekitar abad 18 menjadi pusat perdagangan. Kawasan tersebut pada masa sekarang disebut Kawasan Kota Lama. Kawasan yang terletak di dekat pelabuhan Tanjungmas tersebut, pada masa colonial Belanda merupakan gerbang perdagangan orang-orang Hindia – Belanda di Jawa Tengah.

Pada masa itu, untuk mengamankan warga dan wilayahnya, maka kawasan itu dibangun benteng, yang dinamai benteng VIJHOEK.Untuk mempercepat jalur perhubungan antar ketiga pintu gerbang dibenteng itu maka dibuat jalan-jalan perhubungan, dengan jalan utamanya dinamai : HEEREN STRAAT. Saat ini bernama Jl. Let Jen Soeprapto. Salah satu lokasi pintu benteng yang ada sampai saat ini adalah Jembatan Berok, yang disebut DE ZUIDER POR.

Jalur pengangkutan lewat air sangat penting hal tersebut dibuktikan dengan adanya sungai yang mengelilingi kawasan ini yang dapat dilayari dari laut sampai dengan daerah Sebandaran, dikawasan Pecinan. Masa itu Hindia Belanda pernah menduduki peringkat kedua sebagai penghasil gula seluruh dunia. Pada waktu itu sedang terjadi tanam paksa (Cultur Stelsel) diseluruh kawasan Hindia Belanda.

Kawasan Kota Lama Semarang disebut juga OUTSTADT. Luas kawasan ini sekitar 31 Hektar. Dilihat dari kondisi geografi, nampak bahwa kawasan ini terpisah dengan daerah sekitarnya, sehingga nampak seperti kota tersendiri, sehingga mendapat julukan "LITTLE NETHERLAND".

Kawasan Kota Lama Semarang ini merupakan saksi bisu sejarah Indonesia masa kolonial Belanda lebih dari 2 abad, dan lokasinya berdampingan dengan kawasan ekonomi. Ditempat ini ada sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri dengan kokoh dan mempunyai sejarah Kolonialisme di Semarang.
Kota Lama Semarang ini adalah daerah yang bersejarah dengan banyaknya bangunan kuno yang dinilai sangat berpotensi untuk dikembangkan dibidang kebudayaan ekonomi serta wilayah konservasi.